Dalam dunia pendidikan, literasi menjadi ruh penggerak bagi kemajuan sekolah. Salah satu sosok inspiratif yang telah berkontribusi besar dalam gerakan literasi sekolah adalah Bambang Purwanto, S.Kom., Gr., CPS, CPPS., C.Ed., MEP, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mr. Bams. Sebagai Guru Informatika di SMP Taruna Bakti Bandung, beliau telah menginisiasi berbagai program inovatif yang berdampak luas pada ekosistem literasi sekolah.
Profil Singkat Mr. Bams: Guru Serba Mau
Mr. Bams adalah sosok guru yang aktif di berbagai bidang, termasuk literasi, mendongeng, blogging, MC, serta kegiatan sosial. Beliau juga dikenal sebagai pencetus Poin Literasi (POLITERA) dan Rapor Literasi di SMP Taruna Bakti Bandung. Berkat dedikasinya, beliau telah menerima berbagai penghargaan prestisius, di antaranya:
- Penerima Anugerah Guru Inspiratif dari Dinas Pendidikan dan Gubernur Jawa Barat (2019)
- Penerima Anugerah Widya Pratama Kategori Penggerak Literasi dari Dinas Pendidikan Jawa Barat (2019)
- Penghargaan Guru Inspirator dari Gubernur Jawa Barat (2020)
Selain itu, beliau aktif menulis di berbagai blog dan website, termasuk penamrbams.id.
Mengapa Literasi di Sekolah Itu Penting?
Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi juga merupakan pondasi utama bagi siswa dalam memahami ilmu yang mereka pelajari. Sekolah sebagai habitat utama pembelajaran harus memastikan literasi berkembang dengan baik agar siswa memiliki wawasan luas dan kemampuan berpikir kritis.
Dalam sesi diskusi bersama Mr. Bams, beliau mengungkapkan bagaimana Gerakan Literasi Sekolah (GLS) mulai digalakkan sejak tahun 2015-2016 oleh Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Program ini mengajak siswa membaca buku selama 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai sebagai bagian dari upaya membangun karakter dan budaya literasi.
Transformasi Gerakan Literasi di SMP Taruna Bakti
SMP Taruna Bakti Bandung telah menjalankan program literasi sejak tahun 2016. Berkat inisiatif Mr. Bams, berbagai inovasi dilakukan untuk memperkuat budaya literasi di sekolah, di antaranya:
Perubahan Jadwal Sekolah
- Jam masuk sekolah diubah dari 07.00 WIB menjadi 06.45 WIB agar waktu pembelajaran tidak terganggu oleh kegiatan literasi.
Pemanfaatan Teknologi
- Awalnya menggunakan blog WordPress (literasismptarbak.wordpress.com), lalu berkembang menjadi website khusus literasi (literasi-smp.tarunabakti.sch.id).
Adaptasi di Masa Pandemi
- Meskipun pandemi COVID-19 melanda, kegiatan literasi tetap berjalan dengan metode door-to-door checking di kelas.
Diversifikasi Kegiatan Literasi
- Mr. Bams tidak ingin literasi hanya sebatas membaca buku. Maka, ia menciptakan program literasi yang lebih variatif, yaitu:
- Senin: Membaca Kitab Suci
- Selasa: Mendengarkan cerita dari YouTube atau audio
- Rabu: Membaca buku pilihan
- Kamis: Seputar kata, kalimat, dan angka
- Jumat: Menulis cerita bebas atau curhatan
Mekanisme Poin Literasi (POLITERA)
- Setiap siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan literasi mendapatkan Poin Literasi yang diinput melalui s.id/GLSSMPTARBAK. Poin ini kemudian dikumpulkan dan dievaluasi setiap bulan.
Kegiatan Membaca Bersama di Lapangan
- Setiap bulan, seluruh siswa bergiliran membaca bersama di lapangan untuk membangun kebiasaan membaca secara kolektif.
Inovasi Rapor Literasi: Merekam Jejak Literasi Siswa
Sejak tahun ajaran 2023-2024, Mr. Bams menciptakan Rapor Literasi, yang berisi:
- Poin Literasi (POLITERA)
- Jumlah buku yang dibaca dalam satu semester
- Hasil Tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM)
- Karya literasi yang dibuat oleh siswa
Rapor ini dibagikan bersamaan dengan Rapor Akademis, sehingga orang tua bisa melihat perkembangan literasi anak mereka secara langsung.
Perjuangan Mendapatkan Hak Cipta
Membuat Rapor Literasi bukanlah hal mudah. Mr. Bams harus melakukan presentasi di hadapan guru dan manajemen sekolah untuk mendapatkan dukungan penuh. Setelah melalui berbagai proses, akhirnya Rapor Literasi ini resmi mendapatkan Hak Cipta dari Kementerian Hukum dan HAM pada Februari 2025.
Strategi Pengelolaan Literasi yang Sukses
Komitmen Guru dan Manajemen Sekolah
- Keberhasilan program literasi sangat bergantung pada komitmen semua pihak, terutama guru yang harus menjadi teladan dalam membaca dan menulis.
Pemanfaatan Fasilitas yang Ada
- Minimnya fasilitas bukan alasan untuk tidak mengembangkan literasi. Salah satu contoh inovatif adalah Celengan Literasi, di mana siswa mencatat buku yang telah mereka baca dan mengumpulkannya dalam botol bekas sebagai bentuk dokumentasi sederhana.
Kreativitas dalam Kegiatan Literasi
- Tantangan literasi tidak hanya berbentuk membaca buku, tetapi juga puisi, cerpen, esai, quotes, video literasi, komik, hingga poster.
Mendorong Peran Guru sebagai Penggerak Literasi
- Guru yang peduli akan literasi harus mengambil inisiatif untuk mengembangkan program literasi di sekolahnya, terlepas dari mata pelajaran yang mereka ajarkan.
Membudayakan Literasi dengan Strategi Berkelanjutan
- Program literasi harus dievaluasi secara berkala untuk memastikan peningkatan kualitas dan dampak positif bagi siswa.





