Resume 18 KBMN Kaidah Pantun

Tuhu Setyono - Guru Blogger Indonesia
0

 


Pendahuluan: Kelas Pantun yang Seru dan Interaktif

Pada kesempatan istimewa kali ini, Komunitas Belajar Menulis Nasional (KBMN) Gelombang 32 menghadirkan kelas pantun yang tidak hanya menghibur tetapi juga sarat ilmu. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari semangat nguri-uri budaya atau melestarikan warisan kebudayaan Nusantara.

Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, para peserta dengan semangat mengikuti kelas, meskipun jadwalnya menyesuaikan dengan waktu ibadah. Kelas ini dibuka dengan sapaan hangat dari moderator, Ibu Lely Suryani, yang dengan penuh semangat mengajak para peserta untuk berpantun ria.

Pantun: Lebih dari Sekadar Hiburan

Kelas ini menghadirkan narasumber spesial, Mas Miftahul Hadi, yang merupakan jebolan KBMN 17 dan kini menjadi pakar pantun. Ia membuka sesi dengan pantun perkenalan yang menarik dan disambut antusias oleh peserta.

Dalam materinya, Mas Miftahul Hadi menjelaskan bahwa pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, tetapi juga memiliki nilai etika, pendidikan, dan seni yang mendalam. Ia mengulas sejarah pantun, yang berasal dari kata "TUN," yang berarti baris atau deret dalam berbagai bahasa Nusantara.

Menurut para ahli, pantun merupakan bagian dari kesusastraan tradisional yang digunakan untuk mendidik, memberi nasihat, hingga menyindir dengan cara yang halus dan santun. Bahkan, pantun telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2020.


Keunikan Pantun di Berbagai Daerah

Sesi semakin menarik ketika Mas Miftahul Hadi menjelaskan bahwa pantun tidak hanya dikenal dalam budaya Melayu, tetapi juga memiliki variasi di berbagai daerah di Indonesia, seperti:

  • Ende-Ende (Tapanuli) – Bentuk pantun khas yang bernuansa syair romantis.
  • Paparikan (Sunda) – Pantun Sunda yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari dan nasihat.
  • Parikan (Jawa) – Pantun yang biasanya digunakan dalam seni ludruk atau pertunjukan rakyat.

Belajar Sambil Bermain: Tantangan Pantun untuk Peserta

Untuk membuat suasana semakin hidup, para peserta diajak untuk bermain kata dan menyusun pantun sesuai kaidah yang benar. Tantangan ini disambut dengan antusias, dan berbagai pantun kreatif pun bermunculan, membuktikan bahwa seni berpantun tetap hidup di hati masyarakat.

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)